Comitment to the Nation
Iradiasi Pangan Olahan Siap Saji
By
Iradiasi pangan adalah suatu teknik pengawetan pangan dengan menggunakan radiasi ionisasi secara terkontrol untuk membunuh serangga, kapang, bakteri, parasit atau untuk mempertahankan kesegaran bahan pangan. Sinar gamma, sinar x, ultra violet dan elektron yang dipercepat (accelerated electron) memiliki cukup energi untuk menyebabkan ionisasi.
Iradiasi merupakan proses ‘dingin’ (tidak melibatkan panas) sehingga hanya menyebabkan sedikit perubahan penampakan secara fisik dan tidak menyebabkan perubahan warna dan tekstur bahan pangan yang diiradiasi.
Zubaidah Irawati, Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi BATAN mengatakan, iradiasi pangan olahan siap saji tidak menggunakan bahan pengawet, tidak menimbulkan residu apapun termasuk residu radio aktif, serta tidak mengurangi rasa.
BATAN sendiri sudah memulai iradiasi sejak tahun 1969 pada beras. Saat ini iradiasi sudah dikembangkan pada 3 bahan dasar yaitu ikan, daging sapid an unggas, karena produk ini rawan kontaminasi mikroba. Dari produk ini dikembangkan ke produk olahan seperti pepes ikan mas, rendang, ayam olahan dan semur. Namun produk-produk tersebut
Berbagi Lewat IT
By
Tersedianya IT murah untuk bangsa, itulah yang menjadi mimpi Rusmanto Maryanto, atau yang dikenal sebagai Bapak Linux Indenesia. Keinginannya itu berangkat dari kenyataan bahwa IT akan menjadi kebutuhan bagi semua orang.
Perkenalannya dengan Linux dimulai pada tahun 1998. Ia mulai menggunakan Linux karena lebih stabil dari Windows yang ada saat itu dan lebih aman terhadap virus. Menurutnya, dengan menggunakan Linux, komputernya tidak pernah terganggu virus, tidak perlu update anti virus, dan mudah menambah berbagai program untuk kebutuhan kerja dan hiburan, tanpa khawatir melanggar hukum hak cipta. Namun dukanya, Linux yang digunakan tidak didukung oleh Microsoft sehingga kadang mengalami kesulitan. Linux memang kurang populer pada saat itu.
Ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi banyak orang melalui IT, itulah keinginan jebolan S1 Fisika Instrumentasi Nuklir, Universitas Indonesia ini selanjutnya. Maka ia pun ingin lebih memperkenalkan Linux kepada masyarakat.
Ia berharap pemerintah membuat peraturan bahwa sc. Software proprietary hanya digunakan jika dalam keadaan
Bukan Sekedar Film
By
“Di negeri ini kebenaran dan kebetulan tipis bedanya…” Itulah yang menjadi tag film Kentut. Film bertema komedi social politik ini diproduseri Zairin Zain, disutradarai Aria Kusumadewa, dan dibintangi oleh actor kawakan Dedi Mizwar. Mengapa memilih judul tersebut? Karena film ini ingin mengangkat persoalan sederhana yang ada ditengah masyarakat. Persoalan yang dianggap sepele tapi bisa mengguncangkan.
Mengambil setting pemilukada, film ini ingin memotret kehidupan berdemokrasi di negeri ini. Bagaimana kekuasaan menjadi tujuan utama, dengan menjual janji ingin memperbaiki negeri ini. Dimanakah masalahnya? Apakah di masyarakat yang memilih pemimpin yang juga bermasalah? Tidak heran kalau ujung-ujungnya timbul masalah, antara lain 60% kepada daerah berurusan dengan KPK.
Menurut Dedi Mizwar, film diharapkan bisa memberi pencerahan, baik bagi industri film nasional, maupun bagi kehidupan demokrasi di negeri ini. Film ini juga ingin mengajak kita semua untuk kembali menjunjung tinggi moral. Banyak orang pintar di negeri ini. Tapi tanpa moral yang baik kepintaran itu tidak
Comitmen to The Nation: Boneka Horta dan Kebangkitan Pemuda Indonesia
By
Ingin mengajak anak-anak mengenal dunia pertanian dan lingkungan dengan cara yang menyenangkan. Itulah yang ingin dilakukan Kikin Mardiansyah, lewat boneka horta. Boneka horta? Ya, boneka horta bukan boneka biasa. Boneka horta adalah boneka yang menjadi wadah untuk tumbuhnya tanaman, didalamnya terdapat bibit tanaman. Lucu dan edukatif, itulah gambaran singkat tentang boneka horta.
Boneka horta lahir dari penelitian Kikin bersama sejumlah teman kampusnya di IPB pada tahun 2004. Tapi naluri Kikin mengatakan kalau boneka horta bisa menjadi peluang usaha. Akhirnya pada tahun 2007, Kikin mulai menjadikan boneka horta sebagai peluang usaha. Awalnya Kikin berjalan sendirian, karena teman-temannya yang dulu terlibat dalam penelitian cikal bakal lahirnya boneka horta, tidak yakin dengan prospek boneka ini. Namun seiring berjalannya waktu, 3 orang temannya kembali bergabung untuk “membesarkan” horta.
/>Boneka horta adalah singkatan dari boneka hortikultura. Saat ini, boneka horta sudah banyak dikenal anak-anak. Dan banyak digunakan sebagai sarana edukasi pertanian. Selain menghasilkan kesuksesan
Commitment to The Nation: Pendidikan Untuk Semua
By
Pendidikan untuk semua, tidak terkecuali bagi anak-anak pemulung yang sehari-hari berguul dengan sampah dan kotoran, itulah yang ingin diwujudkan oleh Wulan Sari, pendiri sekolah gratis di kawasan Bantar Gebang.
Keinginannya itu bermula dari kedatangannya ke kawasan TPA Bantar Gebang tahun 2007. Saat itu ia melihat anak-anak berlarian ditengah tumpukan sampah tanpa alas kaki, sebagian dari mereka ada yang sekedar bermain, sebagian lagi mengai-ngais sampah. Padahal di usia mereka, seharusnya mereka sedang duduk di bangku sekolah. Wulan Sari merasa melihat mutiara-mutiara terpendam yang harus diselamatkan. Ia merasa terpanggil untuk menyelamatkan mutiara-mutiara itu.
Wulan Sari lalu mencoba mengenalkan pendidikan kepada masyarakat pemulung. Ia izin kepada pengelola mushola untuk memberi pendidikan sederhana di mushola. Saat itu muridnya hanya satu orang. Namun saat ini jumlah muridnya sudah mencapai 265 orang, dengan tidak lagi meminjam mushola. Saat ini ia juga dibantu 17 tenaga pengajar.
Mengenalkan pendidikan kepada anak-anak pemulung bukan hal yang mudah. Awalnya Wulan
Comitment to The Nation: Perempuan dan Pendidikan Indonesia
By
Pendidikan di sekolah selama ini belum menghasilkan 'sesuatu'. Penilaian itu disampaikan Arifa Handayani, praktisi dan pemerhati pendidikan, penulis masalah parenting, serta pendiri Smart Parenting With Love Community. Berkaitan dengan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, ia menilai, pengalaman selama ini menunjukkan, pendidikan di sekolah tidak menghasilkan manusia yang siap terjun ke masyarakat, dan menghasilkan sesuatu. Kebanyakan hanya berorientasi pada ingin mencari kerja, menjadi pegawai, dan berapa gajinya'. Pendidikan tidak menggiring murid untuk menjadi sesuatu dan menghasilkan sesuatu, baik bagi dirinya, oranglain, dan bagi bangsa.
Kesalahan juga bertambah, ketika orangtua menyerahkan pendidikan anak-anaknya ke sekolah. Orangtua lupa bahwa hakekatnya, Tuhan menyerahkan, menitipkan anak kepada orangtua untuk dididik. Sedangkan sekolah hanya sampingan saja. Sekolah tidak mungkin menemukan potensi atau keunggulan anak didiknya satu persatu. Sekolah hanya memfasilitasi. Kunci utama tetap ada di tangan orangtua.
Untuk memperbaiki kondisi tersebut, orangtua harus sadar sepenuhnya bahwa peran mendidik adalah tugas mereka, dan tidak lepas tangan dengan
Comitment to The Nation: Gerakan "Beli Produk Indonesia"
By
Para pengusaha yang tergabung dalam Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) menggagas gerakan "Beli Indonesia" sebagai seruan untuk membeli produk Indonesia. Gerakan ini berangkat dari keprihatinan atas serbuan produk asing di tanah air, sehingga Indonesia seperti terjajah dengan produk-produk asing.<
br />Presiden IIBF Heppy Trenggono mengatakan, dengan jumlah penduduk mencapai 230 juta jiwa, Indonesia merupakan negara yang luar biasa menarik untuk dijadikan pasar bagi negara lain. Negara lain ingin Indonesia menjadi konsumen mereka. Itulah kondisi yang terjadi saat ini. Produk-produk yang ada dan menguasai pasar dalam negeri, bukan produk nasional, melainkan produk asing.
Bangsa Indonesia melupakan apa yang seharusnya dibela, yakni produk-produk lokal yang diproduksi bangsa sendiri. Pada zaman penjajahan, bangsa Indonesia begitu gigih membela tanah air, karena memahami apa yang yang harus dibela dan diperjuangkan, yakni kemerdekaan. Namun saat ini kita kehilangan tujuan apa yang harus dibela. Padahal jelas, serbuan produk-produk asing merupakan penjajahan dalam segi ekonomi.
Hampir seluruh
Comitment to The Nation: Peran Pendidikan Dalam Membentuk Karakter Bangsa
By
Salah satu persoalan utama Bangsa Indonesia adalah pendidikan. Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, Prof. Hafid Abas bahkan menilai, 3 persoalan utama bangsa ini adalah: pendidikan, pendidikan, dan pendidikan.
Peran pendidikan sangat besar dalam membentuk karakter bangsa. Namun kenyataan yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak berbekas dalam membentuk moral dan karakter bangsa yang positif. Contohnya bisa kita lihat pada peristiwa yang berbau kerusuhan dan konflik. Pendidikan seakan tidak berdaya dihadapan realitas, karena prilaku masyarakat kita masih banyak yang jauh dari toleransi, dan prilaku-prilaku yang menyejukkan.<
br />Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah mengungkapkan kerisauannya pada Hari Pendidikan Nasional 2010. Presiden berharap agar pendidikan benar-benar dapat membangun karakter bangsa yang tangguh.
Ada 2 persoalan besar dalam dunia pendidikan:
1. Adanya persoalan makro yang mempengaruhi dunia pendidikan, yang berimplikasi pada rendahnya karakter bangsa.
2. Ada inkonsistensi dan kesenjangan antara tutur dengan prilaku.
Indonesia masuk dalam daftar negara paling
Comitment to The Nation: Rumah Moral Bagi Bangsa
By
Rumah Moral didirikan oleh Melly Kiong. Melly Kiong dikenal sebagai wanita karier yang sukses menerapkan pola pendidikan dan pengasuhan anak berbasis karakter.
Rumah moral berangkat dari keprihatinannya akan kondisi anak-anak yang rentan dengan masalah soial, moral dan etika. Moral merupakan modal utama bagi anak-anak. Dimanapun anak berada, jika moralnya baik, maka ia akan tetap baik.
Ia yakin semua bisa diperbaiki dari rumah. Ia menilai, moral adalah hal yang penting diajarkan kepada anak. Namun mengajarkan moral kepada anak, tidak bisa hanya berupa teori semata, perlu pendekatan dan contoh yang konkrit.
Melly Kiong mencontohkan untuk mengajarkan anak tentang sopan santun, ia meminta anak untuk memperhatikan prilaku semut. Semut terlihat selalu berhenti dan mempertemukan kepalanya saat bertemu dengan sesama. Setelah melihat contoh itu, anak diberi penjelasan bahwa semuat adalah binatang, yang tidak punya akal, tapi semut sopan dan saling menghormati. Mengapa kita manusia yang punya akal tidak bersikap sopan santun dan saling menghormati?
Comitment To The Nation: Belajar Rendah Hati dari Elang Gumilang
By
Elang Gumilang adalah pengusaha muda yang sukses, tapi tetap low prifile. Ibarat padi, makin berisi makin merunduk. Prinsip itu yang ingin diterapkan Elang. Pria berusia 25 tahun ini baru meraih gelar sarjana pada Bulan Juni lalu. Tapi omset usahanya sudah mencapai belasan miliar rupiah.
Salah usaha yang digeluti Elang adalah membangun perumahan untuk masyarakat miskin. Sebuah usaha yang mungkin enggan dilirik pengusaha lain, karena pangsa pasarnya dinilai tidak menjanjikan. Namun bagi Elang, bekerja dan berbisnis bukan hanya untuk mencari uang. Baginya sukses tidak hanya diukur dari materi, tapi dari apakah hasil kerjanya bermanfaat dan dinikmati oleh orang banyak.
Sejak remaja, Elang yang berasal dari keluarga sederhana ini, memang bercita-cita menjadi orang besar. Tapi dibalik cita-cita itu, ada 3 hal yang ingin ia capai, yaitu:
1. Membahagiakan orangtua
2. Mengabdi kepada negara, berkarya untuk negara
3. Ingin membuktikan bahwa sukses bukan hanya milik keturunan anak-anak orang kaya.
Rumah Sederhana Sehat yang

