Home | Refleksi Prie GS | Bangun Pagi

Bangun Pagi

By
Font size: Decrease font Enlarge font

Refleksi Prie GS

Kedudukan bangun pagi vital sekali. Vital untuk menyambut keseluruhan hari, karena sukses menghayati pagi memperbesar kemungkinan sukses menjalani hari. Maka bangun pagi yang sukses harus diusahakan.

 

Sukses bangun pagi berawal dari sukses tidur. Untuk itu sukses tidur harus diupayakan. Persoalannya, meski tidur itu diam dan mudah, ada sarat teknis dan ideologis.  Sarat teknis terkait dengan pola makan dan olahraga. Sedangkan sarat ideologis, tidur adalah saat kita istirahat, tapi karena ideolgi terbalik, yang terjadi justru ketika hendak tidur seluruh persoalan kita usung ke tempat tidur. Saat istirahat justru jadi saat pikiran bekerja. Akibatnya, banyak bangun tidur dengan hasil capek di seluruh tubuh.

Ini tidak masuk akal, karena bagaimana tubuh yang pasif dan hanya tergolek  saat tidur, bisa begitu menderita. Dari sini terbukti, tubuh hanya alat hati. Sebelum ke hati, bahasa mengalir ke akal lalu emosi. Akal adalah soal pertama yang membandel. Saatnya tidur, akal malah  mengajak berpikir. Ini yang mengganggu emosi dan mempengaruhi hati. 

Tak ada jaminan tidur Anda selalu sukses karena mata rantai yang panjang itu. Tapi faktanya,  tidak peduli bagaimana masalah tidur Anda, Anda harus bangun di pagi hari. Fakta kedua, bagaimanapun kualitas bangun pagi Anda, ada banyak pilihan sikap. Tapi selama ini, suasana bangun pagi selalu tunduk pada  satu pilihan sikap, yakni suasana tubuh saja. Jika tubuh pegal hati ikut pegal, jika kepala berat hati ikut berat, jika tubuh lesu seluruhnya jadi lesu. Maka mari kita pisahkan keduanya. Karena faktanya keduanya memang terpisah. Biarkan yang lesu cuma tubuh, pikiran bisa kita akan bergairah lebih dulu. Awalnya mungkin berat, tapi dengan sedkit memaksakan diri akan terbiasa, jadi kebiasaan, lalu mengajak dirinya sendiri untuk menjadi kegembiraan setiap bangun pagi. 

 Begitu bangun, biasanya saya  duduk pelan, menerima kelesuan tubuh dengan rileks. Kelesuan itu  punya hak. Dia tidak bisa diusir begitu saja. Begitu diterima, kelesuan  akan tahu diri. Begitu kelesuan diakomodir, soal-soal lain akan mengikuti dan menuntut hak yang sama, kaki butuh digerakkan, nafas perlu ditarik, punggung perlu di renggangkan. Penuhi saja panggilaan tubuh itu sesuka Anda. Ketika sudah banyak panggilan berdatangan, Anda akan sibuk sekali sehingga soal kelesuan tidak akan Anda ingat lagi. (am)

Subscribe to comments feed Comments (1 posted)

avatar
hermanto budhi 26 January 2012
terima kasih pak atas inspirasi nya ,memang sebagai karyawan bangun pagi merupakan hal yang sangat menyakitkan..
namun apabila kita terus mengikuti kemalasan saja maka yang ada semua jadi berantakan dari pekerjaan yang nanti nya telat dan sebagainya.
total: 1 | displaying: 1 - 1

Post your comment

Please enter the code you see in the image:

Captcha

Tagged as:

No tags for this article

Rate this article

5.00

Log in

as